“Dalam konteks semacam inilah kita melihat peran NU dan Muhammadiyah dalam proses politik praktis tidak mungkin dilewatkan karena politik praktis hanya bagian dari proses yang lebih besar, yakni proses budaya. Tentunya ke depan dalam dunia politik di Indonesia khususnya di Jawa Timur dalam Pemilu 2024 mendatang peran keduanya juga sangat strategis sekali,”jelasnya.
Samwil menjelaskan, menilik sejarah politik NU dan Muhammadiyah, Peran ulama NU dalam menetralkan isu-isu hoaks tentang rezim yang pro-sekularisme, pendukung LGBT, dan sebagainya yang sangat santer menguasai imajinasi publik selama proses pemilihan presiden itu patut dihargai sebagai usaha untuk mengembalikan keadaban dan kejernihan dalam kehidupan beragama dan budaya.



