“Jadi, awalnya aset ini untuk maggot, karena masih ada tempat yang tersisa, akhirnya kita ternak ayam dan ikan serta sayuran organik, sehingga produksi maggot itu semuanya terpakai,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa tantangan ekspor yang disampaikan oleh Wali Kota Eri memang menjadi mimpi dia dan warganya ke depan. Sebab, apabila aset itu dimaksimalkan dan bisa berkolaborasi juga dengan tempat lainnya, maka insyallah target ekspor sangat memungkinkan.
“Sementara ini kapasitas produksinya memang masih 30 persen, kita akan genjot dulu hingga 100 persen, dan selanjutnya baru berpikir untuk ekspor,” kata dia.
Ketua Kelompok Tani Krembangan Madani, Johan Tri Cahyono, mengatakan sementara ini memang masih memproduksi maggot 100 kilogram perhari, dan sebenarnya itu bisa digenjot lagi hingga 150-175 kilogram perhari dengan fasilitas yang ada. Bahkan, kalau fasilitas raknya ditambahkan, tentu produksi maggotnya akan semakin banyak.
“Jadi, tantangan Pak Wali untuk bisa ekspor ke luar negeri sangat realistis dan mungkin sangat mudah diwujudkan. Apalagi, kalau ada kerjasama dengan wilayah lainnya di Surabaya, tentu target itu akan sangat mudah,” pungkasnya. (hadi)












