Bahkan, kalau maggot lalat itu bisa dikeringkan dan dikirim ke luar negeri atau ekspor, bisa dijual hingga 4 US dan kalau dikeringkan untuk lokal saja, harganya bisa Rp 8 ribuan.
“Makanya, saya berharap teman-teman ini bisa terus mengembangkan maggot ini supaya bisa diekspor dan bisa mengentas kemiskinan MBR di Krembangan ini. Nah, apa saja kebutuhan untuk bisa ekspor itu, nanti kita penuhi fasilitasnya, jadi biarkan warga itu bergerak,” tegasnya.
Di samping itu, ia juga meminta jajaran Pemkot Surabaya untuk berhitung dan bisa membaca peluang ketika membuka tempat rumah padat karya di wilayahnya masing-masing.
Ia tidak ingin ketika di suatu tempat sudah ada jenis usaha, seperti laundry, maka di tempat lainnya diusahakan tidak membuka usaha serupa, kecuali peluangnya memang masih ada.
“Jadi, kita juga harus pandai membaca marketnya, dan yang paling penting bagaimana warga ini bisa bergerak,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Krembangan Ario Bagus Permadi menjelaskan bahwa Rumah Maggot ini untuk merespon angka MBR yang ada di Kecamatan Krembangan. Kala itu, ia diminta untuk mengidentifikasi aset pemkot yang tidak terpakai, sehingga ditemukanlah aset tersebut. Kebetulan, Ketua RW sudah melakukan budidaya Maggot Lalat BSF di lantai 2 Balai RW, sehingga itu dikembangkan ke tingkat kecamatan.












