“Rata-rata mereka mengaku sedang menunggu jam 03.00 WIB untuk melakukan ronda sahur,” ungkap dia.
Hanya saja, ungkap Edi, anak-anak remaja tersebut melakukan kegiatan yang terindikasi dapat menimbulkan gesekan atau gejolak sosial. Sebab, kegiatan yang dilakukan pada malam hari.
“Setiap malam kami juga sering mendapat laporan indikasi tawuran. Tapi saat kami datang ke lokasi, kegiatan tersebut tidak ada,” ujar dia.
Tak hanya itu saja, ia mengaku telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya untuk mengadakan kegiatan di sekolah saat bulan Ramadan. Contohnya, Pondok Ramadan atau kegiatan yang menyibukkan pelajar.
“Sehingga pada malam hari, mereka lebih fokus melakukan persiapan untuk kegiatan besok pagi. Jadi meminimalisir para remaja untuk berkegiatan di luar rumah pada malam hari,” pungkasnya. (hadi)












