“Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Surabaya itu meliputi taman kota, taman hutan raya, jalur hijau dan taman, serta area konservasi mangrove. RTH itu meningkat setiap tahunnya. Bahkan, untuk indeks kualitas tutupan lahan (IKTL), sesuai perhitungan Permen LHK 27 Tahun 2021, di Kota Surabaya juga terus naik,” kata Wali Kota Eri.
Selain tata guna lahan, Wali Kota Eri juga menjelaskan bahwa pemkot memperhatikan kualitas airnya. Di Kota Surabaya, ada 2 long storage, ada 26 waduk, 50 bozem, dan 12 mini bozem. Sedangkan salurannya, ada 142 saluran sekunder dan 35 saluran primer. Jajaran pemkot juga terus memonitor kualitas air sungai, air waduk/boezem, air sumur, dan air laut.
“Makanya, di Kota Surabaya saat ini cakupan air bersih sudah sebesar 99,39 persen, dan jumlah pelanggan PDAM yang mengelola air naik 1,95 persen,” katanya.
Dalam memperhatikan kualitas air, pemkot juga membuat Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) komunal dan rumah tangga. Hingga saat ini, pemkot sudah membangun IPAL di 60 lokasi, sehingga diharapkan warga sekitarnya bisa ikut meniru pembangunan IPAL tersebut.
“Kita juga melakukan revitalisasi sungai, kampung nelayan dan juga brandgang. Alhamdulillah saat ini indeks kualitas air di Surabaya mengalami kenaikan mencapai 58,18,” ujarnya.
Di samping itu, program kota bersih lainnya adalah menjaga kualitas udara. Ia memastikan di Kota Surabaya kualitas udara terus dimonitor, kendaraan juga rutin dilakukan uji emisi, dan program car free day terus dilakukan, kecuali pada saat pandemi. Bahkan, di Surabaya juga mengembangkan Surabaya Intelligent Transport System (SITS) dan juga Adaptive Traffic Control System (ATCS).



