Menyikapi hal tersebut, Pangdam IV/Diponegoro mengatakan bahwa TNI menolak tegas intoleransi, sebab salah satu tugas utama TNI yakni mempertahankan kedaulatan negara. Sikap toleransi juga sudah menjadi darah daging di dalam tubuh TNI sejak dilahirkan, terbukti dengan keanekaragaman agama, suku, ras, maupun golongan yang ada dalam setiap prajurit.
Bentuk penghormatan TNI terhadap pluralitas salah satunya dengan adanya kebijakan baru KASAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman, S.E., M.M., yakni merekrut TNI melalui santri dan lintas agama.
Pada kesempatan tersebut Pangdam mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya di wilayah Jateng agar bersama-sama menjaga keberagaman yang ada di Indonesia dan sudah menjadi perintah Tuhan YME untuk saling menghormati satu sama lain.
“Mari kita bersatu padu mengikrarkan hubungan baik sesama manusia sebab kebhinekaan adalah kekayaan dan modal utama dalam membangun Indonesia yang lebih baik. Together we can” ungkapnya.
Ditambahkan Kepala Badan Kesbangpol Jateng, saat ini indeks toleransi untuk wilayah Jateng sebesar 75,5 persen dan masih di atas rata-rata dari standar nasional yakni 6,9 persen. Namun, hal tersebut masih terus dibenahi untuk mencapai angka 100 persen.
Sesuai dengan misi Gubernur Jateng H. Ganjar Pranowo, S.H, M.IP., dalam membangun masyarakat Jateng yang religius, toleran dan guyub untuk menjaga NKRI, penguatan rasa toleransi antar umat beragama dan saling bersilaturahmi menjadi hal utama dalam mengantisipasi diskriminasi SARA.












