Dikatakannya, kebutuhan pabrik pengolahan kakao dalam negeri sendiri kekurangan bahan baku, sehingga kerap mendatangkan kakao dari kawasan timur Indonesia bahkan impor dari Afrika.
Guna meningkatkan kembali produktivitas kakao di Jawa Timur, pemerintah terus melaksanakan kegiatan pengembangan, rehabilitasi, dan intensifikasi kakao Hal ini juga untuk memberikan peluang kesempatan kerja bagi petani .
Lebih lanjut Heru Suseno mengatakan, kegiatan intensifikasi sendiri bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kakao, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani kakao di Jawa Timur. Di lain pihak kegiatan rehabilitasi tanaman dilakukan untuk memperbaiki tanaman yang tua atau rusak, serta kegiatan pengembangan untuk menumbuhkan sentra kakao baru di Jawa Timur.
Sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan mutu tanaman kakao di Jawa Timur juga dilakukan bantuan alat panen dan pasca panen serta peningkatan SDM petugas dan petani melalui pelatihan.
Dengan adanya pelatihan diharapkan petani dapat meningkatkan ketrampilan dalam berbudidaya serta mengolah biji kakao yang dihasilkan menjadi produk sekunder sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani.
Kegiatan pengembangan kakao ini sangat diminati masyarakat karena harga komoditi yang dalam lima tahun ini relatif stabil, tidak dikenal musim berbuah serta teknik budidaya kakao yang relatif mudah dan memerlukan naungan sehingga oleh petani banyak ditanam di antara pertanaman yang telah ada sebelumnya.
Harga per kakao untuk non fermentasi rata-rata berkisar Rp 20.000 – Rp 23.000. Sementara untuk fermentasi berkisar rata-rata Rp 27.000 – 35.000 sesuai dengan grade masing-masing. “Dengan potensi harga yang cenderung naik, tentunya minat petani untuk mengembangkan komoditas ini semakin bergairah,” katanya.












