Selain di daerah Kutisari, Herlambang menyebut, sebelumnya dinasnya juga melakukan panen ketela pohon di lahan Bekas Tanah Kas Desa (BTKD) di kawasan Kedung Cowek Surabaya. “Sebelumnya kami juga panen ketela pohon di Kedung Cowek. Kalau ketela pohon itu kami menanamnya dari sekitar 8 bulan yang lalu,” ujarnya.
Tak hanya ketela pohon yang menjadi komoditas tanaman pangan DKPP Surabaya. Herlambang menyebut juga menanam beberapa jenis tanaman pangan lain seperti ketela rambat, sayur-sayuran, cabai, hingga jagung. “Setelah panen ketela pohon, sekarang ini lahan kosong di Kutisari itu kami siapkan untuk tanaman cabai,” ungkap dia.
Menurutnya, pada musim hujan, biasanya hanya sedikit saja petani yang menanam cabai. Pasalnya, kelembapan tinggi membuat tanaman cabai rawan kerusakan. Karena itu di musim hujan, biasanya harga cabai menjadi lebih mahal.
“Contohnya di Jambangan itu sekarang kami tanami lombok (cabai) semua. Nanti (lahan kosong Kutisari) kami juga ganti dengan cabai. Mudah-mudahan kami bisa intervensi ke sana (antisipasi kenaikan harga cabai),” ujar dia.
Herlambang menyebut, setidaknya ada 20 titik lokasi tanah BTKD yang dimanfaatkan DKPP Surabaya untuk budidaya tanaman pangan. Lokasinya pun tersebar di beberapa wilayah Kota Surabaya. Beberapa lokasi itu ada yang dikelola oleh petugas DKPP sendiri maupun kolaborasi bersama warga sekitar.












