“Namun itu tidak mungkin diwujudkan, pasalnya, 92 persen tenaga kerja di Jatim bekerja pada sektor UMKM, karena itu, yang bisa kita rubah bukan mesinnya, tapi kita berikan “uang murah” atau stimulus agar biaya produksinya dapat ditekan, sehingga UMKM kita bisa menjual produk yang bagus tapi lebih murah dari daerah lain, cara ini akan membuat UMKM kita menang didalam pertarungan pada MEA 2016 mendatang” katanya.
Stimulus bagi UMKM merupakan solusi dari Pakde Karwo untuk menghadapi situasi ekonomi yang sedang lesu saat ini akibat terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Imbas dari lesunya ekonomi saat ini dikhawatirkan membuat banyak pengusaha terpaksa melakukan efisiensi alias Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Pakde menuturkan, skema pemberian stimulus tersebut adalah Pemprov menganggarkan APBD Rp. 400 miliar untuk disalurkan kepada Bank Jatim dengan bunga 2 persen per tahun, kemudian Bank Jatim berperan menjadi APEX Bank untuk BPR di Jatim dengan suku bunga kredit efektif sebesar 5 persen per tahun, lalu BPR diperkenankan menyalurkan dana kepada UMKM dengan suku bunga maksimal 10 persen per tahun.
Dengan begitu, diharapkan makin banyak UMKM yang bisa mengakses modal dengan bunga yang murah. Pasalnya, sektor UMKM mendapat ketidakadilan jika ingin mendapatkan modal dari bank, suku bunga yang dibebankan kepada UMKM lebih besar daripada bunga yang dibebankan kepada perusahaan besar.



