Ia menengarai, keengganan masyarakat mengunjungi taman bacaan bisa jadi dipengaruhi oleh perkembangan tehnologi, diantaranya dengan adanya gadget dan sebagainya. “Sekarang, baca informasi bisa lewat gadget,” tuturnya
Namun demikian, menurut Junaedi, membaca buku dapat meningkatkan intelektual daripada melalui perangkat lain seperti gadget. “Di sekolah sudah ada program membaca, biasanya sebelum jam pelajaran dimulai. Nah, tinggal di RT dan RW,” katanya.
Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya diharapkan dapat menggerakkan minat baca masyarakat, diantarannya dengan menggelar lomba baca di lingkungan masyarakat. Adanya even yang menggugah semangat membaca sangat penting untuk meningkatkan kesadaran literasi masyarakat kota pahlawan.
Pada saat upacara Hardiknas di Taman Surya Surabaya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memberikan motivasi kepada siswa-siswi di Surabaya tentang pentingnya memiliki tekad kuat dan juga badan yang sehat. Hal itu penting agar tidak mudah menyerah ataupun sakit dalam mengejar cita-cita yang diinginkan.
“Anak-anakku, kalian harus tangguh dan kuat karena kalian cucu-cucu pahlawan. Jangan buang waktu sia-sia karena masa depan sudah menunggu,” katanya.
Risma juga membacakan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk peringatan Hardiknas 2017. Beberapa poin penting dari pidato Mendikbud, pemerintah mengajak semua stake holder bangsa untuk mempercepat terwujudnya pendidikan yang merata dan berkualitas sesuai tema Hardiknas tahun ini.
Para pihak terkait diajak untuk meneladani pemikiran Ki Hajar Dewantara. Salah satunya perihal tiga pusat pendidikan yakni keluarga, sekolah, masyarakat harus saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Serta, tentang reformasi pendidikan nasional yang berfokus pada pendidikan karakter yang kuat dimulai dari dasar. (adv/cn03)



