Hoaks, lanjut Umi, sudah menjadi persoalan serius sekaligus ancaman bagi keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hoaks bahkan telah bertransformasi, menjadi komoditas yang memang sengaja diproduksi dan dikelola untuk kepentingan pihak-pihak tertentu.
“Terlepas apa motif dibalik itu semua, tentunya ini sangat membahayakan kehidupan demokrasi dan toleransi kita, terlebih didukung pengerahan buzzer, maka persepsi apapun sekarang bisa dimainkan,” kata Umi.
Maka, disinilah kehadiran pers sehat dalam industri media sangat diperlukan sebagai filter dan panduan literasi masyarakat informasi dalam menemukan kebenaran. “Saya meyakini, media yang independen, terbebas dari sentimen tertentu akan lebih langgeng dan mudah mendapat kepercayaan publik,” lanjutnya.
Di sisi lain, dengan kemampuannya melakukan pengarusutamaan, pengartikulasian dan pembingkaian, media memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kesadaran publik, menciptakan tatanan masyarakat yang adaptif di era normal baru sekaligus menghadirkan optimisme untuk segera bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19.












