Kendati demikian, badan pemenangan pemilu Partai Golkar tentu harus menindaklanjuti hasil keputusan Munas maupun Rapimnas tersebut untuk mengupayakan bagaimana pada saatnya nanti jika Pak Airlangga mau menerima untuk dicalonkan sebagai Capres maka situasinya sudah fearvartable dan masyarakat juga sudah bisa mendukung. “Itulah yang dilakukan DPP Partai Golkar saat ini,” ungkap Doli.
Oleh karena itu, DPP juga terus menjalin silaturrahim dengan seluruh partai yang ada karena memang belum ada keputusan dari Ketum sehingga partai Golkar juga belum melakukan upaya penjajakan membangun koalisi maupun menyiapkan pasangan Cawapres di Pilpres mendatang.
“Kami hanya terus melakukan silaturrahim dengan seluruh masyarakat dan dengan kekuatan-kekuatan politik yang lain termasuk dengan partai politik. Jadi belum sampai pada yang rigit bicara tentang koalisi maupun pasangan cawapres,” jelas Doli Kurnia Tandjung.
Dari awal DPP dan ketua umum juga berpandangan bahwa silaturahim dan komunikasi antar elite politik dan sesama pimpinan partai politik itu sangat penting. Sehingga pertemuan atau silaturrahim antar pimpinan parpol itu sudah dilaksanakan dari tahun-tahun yang lalu atau jauh sebelum Pak Airlangga terpilih sebagai ketum DPP PG.
Ketika komunikasi antar elite lancar, kemudian koordinasi dan soliditas antar partai politik pendukung pemerintah itu baik, maka itu juga sebagian dari pekerjaan untuk memudahkan mengatasi krisis dan menjalankan program-program pemerintah yang menjadi tugas Pak Airlangga
“Silaturrahim kebangsaan itu menjadi sesuatu yang akan terus dikembangkan oleh Pak Airlangga dan Partai Golkar,” pungkas Ahmad Doli Kurnia Tandjung. (Caa)












