“Dana bantuan Rp9 miliar untuk Museum SBY adalah hal ironis di tengah fakta kemiskinan Pacitan yang begitu besar. Apalagi kalau kita lihat bentuk Museum SBY seperti istana mewah, yang menjauh dari realita hidup rakyat Pacitan,” tegas politisi muda alumnus Universitas Airlangga itu.
Menurut Deni, alasan bantuan pembangunan Museum SBY untuk peningkatan wisata tidak tepat. Pengembangan pariwisata di Pacitan mestinya dilakukan dengan pendekatan kebudayaan dan juga pembangunan infrastruktur, bukan dengan Museum SBY.
“Jika Pak SBY mau bantu rakyat Pacitan, termasuk untuk mendorong wisata seharusnya membangun museum tentang dirinya sendiri itu tanpa bantuan APBD, tanpa bantuan uang rakyat. Ini kan kebalik-balik, rakyat disuruh membantu lembaga tokoh politik untuk membangun museum tentang tokoh itu sendiri,” sindir Deni.
Sementara itu, Sri Untari Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim sekaligus pemerhati budaya menambahkan, hibah pada situs budaya tinggalan leluhur-leluhur di masa yang lalu jauh lebih penting daripada hibah untuk Museum. “karena kalau situs budaya, mengandung nilai-nilai luhur ajaran budi pekerti, ketimbang pada museum yang dimuseumkan masih hidup, biasanya Museum itu menempatkan memori2 heroik bagi para tokoh yang sudah meninggal,” papar Perempuan yang akrab disapa bu Untari ini. (Caa)



