Persoalan lain adalah vaksin didrop di salah satu rumah sakit di Sidoarjo. Rumah sakit tersebut mendapatkan jatah banyak dari Kementerian Kesehatan kemudian didistribusikan ke Dinkes Sidoarjo, selanjutnya ke salah satu rumah sakit.
“Langsung di drop banyak. Padahal tidak semua tenaga kesehatan divaksin disitu semua. Seharusnya vaksin (jatah) hanya ditujuhkan tenaga kesehatan rumah sakit tersebut saja,” paparnya.
Benyamin khawatir vaksinasi masyarakat akan diberlakukan sama seperti tahap pertama. Dimana vaksinasi tidak berbasis kecamatan.
Menurutnya, vaksin tidak perlu didrop ke satu rumah sakit semua. Khawatirnya rumah sakit tersebut overload dan tidak ada sosial distancing. Untuk itu, harus ada terobosan tertentu yang dapat mempermudah bagi siapapun yang mendapatkan vaksin.
“Maka ini harus diantisipasi karena gratis. Maka lebih baik didistribusikan ke semua klinik atau Pukesmas,” pungkasnya.(Caa)



