Mungkin juga ini bagian dari skenarionya yang justru menginginkan turun ke bumi sebagai bentuk tanggungjawabnya sebagai pemikir dan intelektual serta pengayom juga pemberi cahaya (qondilulloh) bagi umat manusia yang hidup dijagad raya ini sehingga dia membiarkan dirinya seolah – olah terjerat.
Jangan lupa juga bahwa Semar itu keturunan dewa yang mempunyai sanad langsung sampai sang Hyang Wenang yang pasti punya misi khusus dan tidak bisa diprediksi apa yang akan dilakukanya serta berbuat semaunya karena begitulah memang kenyataanya.
Yang paling penting adalah kalau Semar tidak diturunkan ke bumi maka tidak akan ada Gareng Petruk dan Bagong yaitu kita sebagai anak-anaknya yang berkewajiban mengikuti dan menjadikanya teladan serta berusaha minimal bisa meneruskan apa yang sudah dilakukan Semar selama ini.
Petruk hanya bengong dan terdiam mendengar semua yg perkataan Bagong yg sungguh diluar perkiraanya sehingga tanpa sadar rokok yang ada disakunya diambil oleh Bagong sambil pura pura pamit pergi kedapaur mengambil singkong yang lagi direbus.
Gitu aja kok repot…
Wallohua’lam bisshowab.
*) Penulis Ki Sengkek Suharno adalah penggiat kebudayaan dalang wayang kebangsaan
Wakil Ketua PC GP Ansor Kab. Tegal
■Pojok Nyong Kopi 17 Des 2020
#bedahbuku
#menjeratgusdur












