Bagi orang Jawa, tupai memang disebut bajing. Karena menurutnya tupai memakan kelapa tanpa harus minta ijin dulu kepada yang empunya kelapa. Ia disebut “bajing” karena dianggap mencuri kelapa. Pada hal secara alami, kelapa adalah makanan utamanuya. Tetapi tupai tahu (yang manusia tidak tahu) kelapa yang bagaimana yang ia konsumsi dan kelapa mana yang dikonsumsi manusia. Sehingga tupai tersebut memakan hanya buah kelapa yang “bajang,” yaitu kelapa masih muda dan bakal tidak jadi matang.
Tupai-tupai tersebut memakan kelapa-kelapa adalah hak yang diberikan Tuhan untuk hidup, seperti halnya manusia boleh menguasai kelapa sebagai hak miliknya.
Jadi disini ada pembagian yang adil antara binatang dan manusia untuk menguasai dan menggunakan hasil ciptaan Allah. Manusia tidak bisa serakah begitu saja dan tidak memberi hak penguasaan terhadap makluk yang lain. Dengan takdir masing-masing pembagian berkah Allah dari alam raya saya anggap sudah seimbang. Kelapa adalah milik Allah dan dibagikan kemana makluk di bumi dengan cara seadil-adilnya. Artinya manusia menguasai kelapa yang kualitasnya bagus, sedangkan Tupai cukup dengan kelapa bajang, yang oleh manusia kelapa yang demikian itu tidak akan laku dijual.
Sebagai Pembanding yang mungkin juga merupakan sebuah Ironi yang mungkin akan berbeda dengan pendapat masyarakat pada umumnya adalah pada peringatan Hari Dharma Karya Dhika (HDKD) tahun 2018 tupai dipilih sebagai maskot acara karena memiliki filosofi dan simbol yang luhur.
Maskot itu diluncurkan karena menurut mereka tupai menggambarkan hewan yang cerdas, lincah, tangguh dan pantang menyerah yang dapat dimaknai bahwa sebagai pejabat dan ASN yang mampu bekerja keras dan bekerja sama serta berjiwa kesatria untuk mengabdi pada bangsa dan negara.
Lebih lanjut, ASN harus ada komunikasi dan koordinasi yang baik antara atasan dan bawahan secara berjenjang. Konflik hanya akan membuang energi serta memecah belah kekuatan dan menurunkan kemampuan kinerja kita.
Saat ini yang harus dilakukan adalah bergandeng tangan, bahu membahu, dan mencari solusi secara bersama-sama Sehingga setiap persoalan yang dihadapi Kemenkumham dapat ditangani dengan baik. (Humas Kemenkumham Jatim)



