Cakrawala DaerahIndeks

Ambiguitas Simbol Tupai ( Bajing tanpa akhiran an )di Indonesia

×

Ambiguitas Simbol Tupai ( Bajing tanpa akhiran an )di Indonesia

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ki Sengkek Suharno

Tupai diciptakan di bumi ini pasti mengemban misi. Ini persoalan yang harus dipahami secara baik oleh kita bersama sebagai Mahkuk ciptaan Tuhan.
Tupai binatang yang kecil dan lucu itu bukanlah tanpa maksud Allah mendatangkannya di muka bumi. Ia adalah bagian dari makluk hidup yang tak terpisahkan dari equilibrium kehidupan.

Jadi saya yakin bahwa tupai-tupai yang melompat-lompat dari dahan kelapa satu ke dahan kelapa lainnya merupakan penyeimbang kehidupan alamiah. Mereka pastilah membantu kita, sebagai penyeimbang dalam hidup kita yang tak pernah kita mau tahu dan bahkan tak kita pedulikan. Mereka dihadirkan Allah sebagai sahabat yang melengkapi proses alami demi kehidupan yang selaras, seimbang dan damai.

Maksud saya menjelaskan semua ini, sudah barang tentu mengkritisi analogik dan metaforik masyarakat secara umum untuk menjadikan tupai sebagai analogik koruptor dan metaforik korupsi. Selain itu, kampanye terhadap pembasmian tupai sampai keakar-akarnya juga bukan gagasan yang simpatik. Kalau toh tupai sampai meresahkan petani kelapa ,bentuk perburuan untuk mengurangi dan menghambat perkembangan kelahiran boleh-boleh saja. Saya setuju dengan cara bijak seperti itu.

Semua dikembalikan kepada hak masyarakat untuk tetap bertahan dengan gagasan tersebut. Ini hanya persoalan kajian kritis dan bukan sesuatu mutlak. Karena simbol sendiri juga bersifat ambigu dan karena sebab itu terkadang pemakaian tanda/simbol mempunyai makna yang lain (tupai sebagai bajingan menjadi koruptor misalnya) bisa menyakitkan banyak orang (karena sumber pengacauan) di satu pihak tetapi di pihak lain justru bisa menguatkan.

Artinya bahwa tanda atau simbol tersebut memiliki penanda yang tidak tunggal dan sejumlah simbol dan tanda-tanda bisa direpresetasikan melalui satu tanda saja karena tanda-tanda merupakan fenomena yang kompleks dan menuntut pembacaan yang hati-hati dan penuh pertimbangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *