Berdasar data Organda Jatim, jumlah angkutan online yang beroperasi di Jatim hampir tujuh ribu unit. Jumlah tersebut, lebih banyak dibanding jumlah taksi sebanyak 6 ribu unit. Dampaknya, banyak taksi yang dikandangkan. Pengusaha angkutan lebih memilih mengandangkan armadanya karena penumpang sepi. Disatu sisi, biaya operasional angkutan cukup tinggi sehingga membuat pengusaha merugi.
“Bayangkan saja kalau dulu kami menambah armada sulitnya bukan main. Sekarang tiba tiba penumpang kami dicaplok angkutan online,” ujarnya.











