Dia lupa pada Tuhan dan wejangan orang tuanya Resi Pradmadya bahkan ia lupa dengan ajaranya sendiri yaitu sapa sing salah mesti seleh bahwa kebenaran tidak akan pernah kalah oleh kejahatan meskipun dibungkus dengan topeng agama.
Dalam Kesedihanya Semar menangis tersedu karena tak tega menyaksikan para pemuka agama justru memamerkan dan mempertotonkan prilaku yang tidak terpuji bahkan terang-terangan berani menjual ajaran dan agamanya demi nafsu duniawi semata.
Sementara itu Bagong masih sibuk dengan urusanya sendiri berkelana seorang diri mencari makna sejati dari hidup dan kehidupan lewat jalan gilanya menuju Tuhan.



