Dunia Pewayangan Saat ini memang mengalami banyak sekali perubahan dan perkembangan baik secara Cerita ,Anggit dan sangggit, tata cara pertunjukan Penyajian maupun Musik Pengiringnya yg selalu mengedepankan Musik Tradisional yg khas dan kental aroma mistik.
Dulu Pagelaran Wayang baik Kulit maupun Golek Mungkin Hanya berkutat pada Cerita Mahabharata dan Ramayana Serta Tambahan Modifikasi Dari Jawa Oleh Sunan Bonang Dan Kalijaga dalam wayang kulit dan Cerita Rakyat dan daerah dalam Wayang Golek.
Tata Cara Pertunjukan dan Penyajian serta Sanggit Anggitnya pun biasanya memggunakan gaya Jogjakarta dan Surakarta utk Wayang kulit serta Gaya Sunda dan Jawa utk Wayang Golek ditambah gaya cirebon dan Pantura Jawa.
Gamelan Pelog dan Slendro yg terdiri dari Kendhang Demung Saron rebab gender ketuk kempyang dan Gong serta banyak lagi jenisndan bentuknya menjadi Musik Pengiring Pertunjukan Wayangnya dengan mengambil aransemen karya pujangga pujangga Jawa dan Sunda yg melegenda menambah mewah dan kaya Tradisi sebuah pagelaran.
Namun yg saya lakukan malam ini sangatlah miskin dari itu semua, dengan bedol kayon tapi tdk menutupnya dg tancap kayon, dengan mengambil tokoh utama yg berbeda seperti Sugeng Dan Darmo yg tdk terkenal dan hnya masyarakat biasa, dan Jalan cerita yg mengambil cerita Dan kejadian sosial terkini secara masiv seperti Pelanggaran Prokes dalam Pandemi serta mengkritik Pejabat Pusat Dan daerah yg tdk punya Sense Of Crisis ditengah bencana memanglah membuat banyak orang tergelitik dan terusik serta bertanya tanya apa sebenarya yg ingin sy lakukan.
Jawabanya sederhana :
Pertama karena kemampuan dan kepandaian yg saya miliki dalam dunia Pagelaran wayang yg terbatas baik secara cerita anggit sanggit dan pakemnya maupun musik iringanya sehingga diwayang kebangsaan tdk menggunakan itu semua dalam pagelaranya.












