“Contohnya saat ditanya ada masalah lansia, paslon nomor 1 bisa menjawab dengan baik, implementatif, dan cara penyampaiannya tidak bertele-tele. Hal ini berbeda dengan saat paslon nomor 2 menjawab, ada ketidaksinkronan antara pertanyaan dan jawabannya karena mencoba mencari kelemahan lawan,” ungkapnya.
Surokim menilai, saat Eri-Armudji berbicara seperti tidak sedang menjawab pertanyaan yang diajukan. Tapi seperti berbicara di depan publik Surabaya secara nyata, tidak sedang di studio.
“Debat publik kedua ini lebih berjalan alamai. Tidak mengalami demam panggung seperti debat pertama,” pungkasnya. (hadi)












