“Kita menghadirkan UPT dinas PU Bina Marga Pacitan dan Jawa Timur untuk mengecek kemampuan menangani bencana sekarang ini daerah rawan kontur tanahnya pegunungan dan dan sangat rapuh,” tambah politisi partai demokrat itu.
Dikatakan Kuswanto, faktor utama penyebab terjadinya longsor di wilayah tersebut adalah karena maraknya penggundulan hutan. Kondisi itu mengakibatkan arus sungai yang ada di sebelah Jalan begitu deras dan menggerus gempa dan jalan sehingga sewaktu-waktu jalur Ponorogo Pacitan bisa ambles dan longsor.
“Usia tanaman dan tanah yang rapuh serta aliran air di sungai yang dibawahnya yang begitu deras karena banyak penggundulan hutan ini mengakibatkan daerah ini sangat rawan terjadinya longsor. Kita tidak ingin bahwa wilayah Pacitan ini terisolir karena adanya kejadian bencana alam tanah longsor,” tegas Kuswanto.
Sementara itu, dari hasil pantauan komisi D DPRD Jawa Timur penanganan longsor di jalan Ponorogo-Pacitan KM 36 sudah rampung. Sempadan jalan yang longsor saat ini sudah dipasang tanggul bronjong sedalam 5 meter sehingga jika terjadi arus yang deras tidak menggerus badan jalan yang ada di atas tanggul tersebut. “Kita sudah melihat ada empat titik wilayah yang setelah terjadi longsor. ini adalah titik pertama Alhamdulillah penanganan penanganannya cukup baik di titik ini menghabiskan anggaran 340 juta yang diambilkan dari dana bencana,” tambah Kuswanto.
Sedangkan, di tiga titik lainnya, perbaikan jalur yang sempat longsor masih berjalan. Komisi D DPRD Jatim berharap agar perbaikan jalur tersebut segera dituntaskan, agar tidak mempengaruhi perekonomian di kedua kabupaten tersebut.












