Lebih lanjut dijelaskan, bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari amal ibadah yang diwujudkan dalam pengabdian kepada bangsa dan negara ini. Kegiatan ini bukan yang pertama, tahun yang lalu ada 4 Batalyon yang juga menerima pembekalan seperti ini, dan mereka telah mempraktekkannya di daerah operasi dan berhasil dengan sangat baik.
Memang semua prajurit yang bertugas di perbatasan pada waktu-waktu sebelumnya juga telah berkiprah didalam membantu masyarakat, membantu pemerintah daerah dibidang pendidikan dengan bekal modal dasar masing-masing yang belum distandarkan.
Namun mulai tahun 2019, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Staf Teritorial Mabesad telah menyusun program untuk menstandarkan kemampuan prajurit yang akan terlibat di daerah operasi untuk berinteraksi dibidang bendidikan baik dengan anak-anak SD, SMP maupun tingkat pendidikan yang lain.
“Pada pembekalan ini, bayak hal pengetahuan ilmu yang akan diberikan oleh para narasumber dan pengajar dan saya melihat yang sudah lampau itu sangat menarik. Jadi ilmunya tidak sekedar seperti ilmu tentara, tetapi ada tehnik, cara dan prosedur ada pedoman-pedoman yang mungkin agak berbeda. Tetapi ini akan memperkaya diri kita masing-masing para prajurit didalam memberikan instriuksi nantinya, tidak hanya kepada siswa-siswa daerah perbatasan tetapi ilmu yang diberikan bisa nanti diterapkan satuan ini. Pengetahuan ini tidak hanya terbatas untuk para unsur-unsur pimpinan, jadi untuk semuanya,” imbuhnya.












