“Dari semua data yang sudah dipaparkan oleh gubernur Khofifah tidak sekalipun menyentuh angka 0,83. Memang RT Jatim pernah menyentuh 0,85 ketika dipresentasikan tetapi itu masih belum sesuai standart WHO,” jelasnya.
Dikatakan Sadad, alasan lainnya adalah instalasi kesehatan di Jatim masih belum memenuhi syarat untuk menuju new normal. Kapasitas pemeriksaan PCR di Jatim masih kalah dengan Jawa Barat dan DKI Jakarta. Disamping itu, kondisi rumah sakit di beberapa wilayah seperti Surabaya Raya juga sudah hampir overload.
“Kalau new normal yang sesungguhnya itu ya semua fasilitas kesehatan minimal menyediakan 150 persen dari kemampuan normal. Ini semua kan serba terbatas, jadi saya kira masih jauh dari normal,” tambahnya.
Anggota DPRD Jatim tiga periode itu mengaku sedih karena warga Jatim juga masih belum sepenuhnya menyadari penerapan protokol kesehatan. Menurut dia, rendahnya penerapan protokol kesehatan itu menunjukkan kalau Pemprov Jatim gagal dalam menjalankan fungsi sosialisasi di tingkat grassroot.



