“Gula kristal asal Desa Petahunan aman bagi penggemar makanan manis yang menderita diabetes. Dapat bertahan sampai dua tahun tanpa mengalami perubahan warna dan rasa jika dibungkus dalam tempat yang rapat,” ujarnya.
Kelebihan gula kristal inilah yang menjadikannya mampu menembus pasar Eropa seperti negara Hong Kong, Turki, Perancis, Amerika dan Inggris.
Ini karena kadar air terkandung hanya 2-3 persen, dari proses perebusan nira di dalam wajan selama 4 jam dengan suhu mencapai 120 derajat Celcius, hingga mulai mengkristal. Selanjutnya, gula yang sudah mengeras ini dihaluskan dengan menggunakan batok kelapa atau disebut warga setempat dengan istilah “di guyer”.
“Meskipun prosesnya lebih lama dan rumit, namun secara ekonomi harganya berbeda jika dibandingkan dengan gula jawa yang hanya berkisar antara Rp. 9-10 ribu per kilogramnya,” pungkasnya.



