Petani saat ini, kata Subianto menginginkan harga mencapai Rp 10.500 ditingkat petani.”Sedangkan untuk HPP (Harga Pokok Penjualan) petani menginginkan harga mencapai Rp 11.200 ditingkat distributor. Namun, dengan harga tersebut tiba-tiba muncul gula impor tentunya harga petani tersebut akan jatuh,”jelasnya.
Diungkapkan oleh Subianto, saat ini pihaknya masih menunggu perkembangan dari peredaran gula impor tersebut.” Kami mau bertanya kemana. Kalau pergi ke Jakarta tentunya tak mungkin ditengah pandemic Covid-19. Kami hanya bisa menyayangkan gula impor tersebut masuk,”jelasnya.
Ditambahkan oleh Subianto, pihaknya berharap tak ada gula masuk ditengah musim giling. Sesuai surat Sekda Nomor 510/1645/125.1/2020 tanggal 11 Maret 2020 mengenai stabilitas harga dan ketersediaaan gula diketahui bahwa kebutuhan gula Jatim ada 35.500 ton perbulannya.
Sedangkan Persediaan sampai 10 Maret 2020 mencapai 39.000 Ton dan kebutuhan 11 Maret sampai dengan akhir Mei (3 bulan X 35.500) diketahui mencapai 93.666 ton.
Berdasarkan kebijakan gubernur Jatim soal importasi Raw Sugar menjadi gula konsumsi dan pabrik gula agar dialokasikan atau didistribusikan hanya ke wilayah Jatim antara lain, PT Kebun Tebu Mas (KTM) sebesar 50.000 ton, PT Rejoso Masnis Indo sebesar 20.000 ton dan PT Kebonagung 21.422 ton dengan total keseluruhan mencapai 91.422 ton.



