Surabaya, cakrawalanews.co – Sekira satu dekade silam, sebuah terobosan pemberdayaan ekonomi yang mengguncang dunia, terjadi di Bangladesh. Adalah Profesor M. Yunus, sosok yang jadi pelopor pemberdayaan perempuan miskin dan pengemis di negaranya, untuk menjadi wirausaha. Caranya, ia mendirikan Bank Grameen (Bank Desa) yang memberikan pinjaman uang ke wanita miskin sebagai modal wirausaha.
Grameen Bank yang berarti bank desa ini didirikan dengan berdasar prinsip-prinsip kepercayaan dan solidaritas. Grameen fokus memberikan pinjaman untuk masyarakat miskin—khususnya kaum perempuan—dengan jumlah kecil dan juga bunga rendah. Pengemis diberikan pinjaman 4-10 dolar per orang.
Sebelumnya, masyarakat di sana kebanyakan meminjam uang melalui rentenir yang memberi bunga 10 persen per minggu. Sistem ini tidak membuat masyarakat miskin meningkatkan taraf hidupnya. Sebaliknya, para lintah darat semakin kaya
Cara Yunus itu berhasil. Pinjaman dengan jumlah kecil dan bunga masuk akal itu tidak hanya membantu mereka bertahan hidup. Tetapi juga menimbulkan inisiatif para pelaku usaha untuk keluar dari kemiskinan. Ribuan pengemis yang mendapat pinjaman, berhenti mengemis. Mereka kemudian beralih menjadi penjual barang atau makanan dari pintu ke pintu.
“Saat mereka merasa dipercaya untuk menerima pinjaman uang, ia akan menjaga kepercayaan tersebut seumur hidupnya,” ujar M. Yunus yang digelari Bapak Bank untuk Rakyat Miskin seperti dikutip dari laman Wikipedia.
Siapa Bersungguh-Sungguh Akan Berhasil
Bila Bangladesh punya Bank Desa yang digagas M.Yunus, Kota Surabaya punya program Pahlawan Ekonomi yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Dalam hal efektivitas dan tepat sasaran untuk mengubah warga kurang mampu menjadi lebih berdaya, program yang digulirkan Pemkot Surabaya sejak 2010 lalu ini tidak kalah dengan bank desa nya M.Yunus.
Bahkan, program Pahlawan Ekononi ini bisa dibilang lebih mendidik bila mengacu pada filosofi Cina “jangan memberi ikan jika kita ingin orang lain bisa makan untuk besok dan seterusnya, beri kail dan ajari mereka cara mendapatkan ikan, supaya mereka bisa menggunakan untuk keperluan hidup mereka”.
Ya, melalui Pahlawan Ekonomi, Pemkot tidak sekadar memberikan pinjaman uang kepada ibu-ibu rumah tangga di Surabaya. Tetapi, Pemkot memberikan wawasan usaha. Pemkot mengenalkan pentingnya ilmu dalam memulai usaha agar berhasil. Ibu-ibu yang kebanyakan menjalankan usaha asal jalan tanpa pemahaman ilmu usaha yang benar, bahkan ada yang sama sekali belum mengenal wirausaha, diberi bekal ilmu dan juga pelatihan usaha pada setiap akhir pekan di Kaza City. Ada traineer berpengalaman yang mengajari mereka.
Dan, dalam hidup itu memang berlaku “man jadda wa jadda”. Bahwa siapa yang bersungguh-sungguh, (insya Allah) akan berhasil. Pahlawan Ekonomi juga menjadi bukti kebenaran “man jadda wa jadda” itu. Karena bersungguh-sungguh mengikuti pelatihan, bersungguh-sungguh ingin berhasil, ada banyak ibu-ibu rumah tangga yang awalnya tidak tahu apa-apa tentang dunia usaha, nasibnya berubah. Mereka menjadi pengusaha rumahan yang sukses dengan menghasilkan produk-produk yang awalnya mungkin tidak pernah terpikirkan oleh mereka.











