Pun soal keterbatasan anggaran, jika dipaksakan, pihaknya khawatir pembangunan trem akan berhenti di tengah jalan. Pasalnya, selama ini alokasi dana APBN hanya berkisar Rp 155 miliar.
Di kementerian perhubungan memang tersimpan dana bantuan dari pemerintah Jerman senilai Rp 1,5 triliun yang bisa digunakan untuk pembangunan trem di Surabaya. Namun, jelas Awey, besaran dana tersebut masih belum mencukupi dari jumlah biaya yang dibutuhkan, sekitar Rp 2,4 triliun.
Apalagi, berdasarkan informasi terkini dari kementerian perhubungan, akibat inflasi alokasi anggaran yang dibutuhkan saat ini sudah mencapai Rp 3,3 triliun.
Oleh karena itu, dia berharap Pemkot Surabaya menunda pembangunan moda transportasi massal sekitar 1-2 tahun, kemudian beralih pada proyek pembangunan LRT sesuai program pemerintah pusat.
Meski konsekuensinya, anggaran miliaran untuk kajian pembangunan trem terbuang sia-sia. Apalagi, sebutnya, di Semarang, Palembang, Jakarta, Depok dan Bogor, proyek LRT ini yang direalisasikan.












