”Kegiatan blusukan ke kampung adalah bagian dari tugas jajaran Pemkot Surabaya, termasuk Pak Eri Cahyadi, untuk menyerap aspirasi. Kan itu juga bagian dari perencanaan pembangunan kota. Kok begitu dipermasalahkan,” ujarnya.
Abdul Munif, Ketua LPMK Kedung Baruk, menilai, tudingan politisi Nasdem tersebut sangat bermuatan politis. Diterangkan, Imam Syafii menyudutkan Risma dan pejabat Pemerintah Kota, karena momentumnya mendekati Pilkada 2020.
”Tudingan (politisi Nasdem) itu karena ada kepentingan politik di baliknya. Namanya pejabat memang harus dekat rakyat, ada sinergi antara pejabat dan masyarakat,” ucapnya.
Pandangan serupa disampaikan Harmadi, Ketua LPMK Bulak. ”Misalnya Pak Eri, dia turun memantau langsung Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di berbagai kelurahan. Perlu diingat, Musrenbang itu dimulai dari tingkat terbawah. Jadi wajar jika turun ke kampung,” ujarnya.
”Saya selalu hadir. Saat turun ke masyarakat, tak ada pejabat Pemkot yang pencitraan. Semuanya fokus mendapatkan informasi dari warga, menggali masalah, cari solusi. Itu ditradisikan Bu Risma, jadi jajarannya tidak berani pencitraan, semuanya kerja serius,” imbuh Harmadi.












