Sebaliknya, jika penyakit ini ditangani, maka dapat membantu mempercepat proses bicara pada anak dan dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Bahkan, akan dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan gigi anak secara permanen. “Makanya, kami melakukan berbagai program untuk menanggulangi penyakit ini,” kata dia.
Berbagai program itu adalah semakin gencar melakukan sosialisasi tentang kesehatan gigi dan mulut melalui poster, leaflet, lembar balik gigi dan phantom. Selain itu, terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat umum, orang tua siswa, kader balita, guru Paud, kelompok bermain (KB), TK dan SD. “Kami juga membuat program jejaring dengan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga. Biasanya dalam bentuk pelatihan kesehatan gigi dan mulut secara visual, sesuai standart bagi guru Paud, KB, TK, dan SD,” ujarnya.
Febria memastikan dinas kesehatan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut. Baik dalam rangka memasuki tahun ajaran baru bagi peserta didik baru, maupun rutin dilaksanakan setahun sekali untuk kelas yang sedang berjalan. Selain pelajar, ibu hamil juga menjadi sasaran pemeriksaan gigi, karena pemkot ingin mencegah penyakit karies sejak dini.
Apabila dalam pemeriksaan itu ditemukan ada anak yang menderita penyakit Karies Gigi, maka gurunya harus mendampingi dan mengantarkan anak didiknya itu ke puskesmas terdekat. Di Puskesmas, anak tersebut akan mendapatkan pengobatan gigi dan mulut secara gratis.











