“Molotov bukan mahasiswa yang ditangkap juga sebagian di antaranya bukan mahasiswa bukan pelajar, mereka masyarakat umum yang ketika ditanya juga mereka nggak paham tetang RUU apa, RUU apa bahkan ada yang mendapat bayaran,” tuturnya.
Menurut Tito, para perusuh ini memanfaatkan aksi mahasiswa yang awalnya menyampaikan aspirasi dengan tertib untuk membuat kericuhan. Para perusuh ini, disebut Tito, memiliki agenda tersendiri yang beda dengan aksi mahasiswa.
“Kita melihat ada indikasi kelompok yang melakukan aksi ini yang semula murni dari adik-adik mahasiswa ada pihak yang memanfaatkan, mengambil momentum ini untuk agenda sendiri, untuk agenda-agenda politik yang disebutkan Menko Polhukam dengan tujuan politis untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah secara konstitusional sehingga kita lihat seperti di Jakarta tidak tepat sudah caranya adanya penggunaan bom molotov, ada pembakaran pos polisi,” ucapnya.
Sementara itu, Menko Polhukam Wiranto menyesalkan aksi demonstrasi mahasiswa dalam beberapa hari ini diambil alih oleh pihak lain yang berupaya membuat kekacauan. Wiranto menyebut, para perusuh itu mencoba menggagalkan pelantikan presiden dan wakil presiden.



