Selain dari telaga, kata dia, warga juga memanfaatkan air dari perusahaan air minum daerah. Namun, tak semua wilayah teraliri air dari perusahaan daerah air minum setempat.
“Di dusun itu belum tersentuh pipanisasi dari PAM,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat warga hanya memanfaatkan sungai atau kolam tadah hujan untuk pemenuhan kebutuhan air. Namun akibat kekeringan ekstrem, sungai dan tampungan tadah hujan juga ikut mengering.
“Solusi lainnya adalah dengan membeli air seharga Rp3 ribu per drum berkapasitas 19 liter. Sementara dalam sepekan, warga biasanya menghabiskan 7-8 drum,” katanya.
Dengan kata lain, kata dia, uang yang harus mereka keluarkan untuk kebutuhan air sepekan sekitar Rp24 ribu, yang kurang terjangkau bagi warga yang mayoritas bekerja sebagai buruh tani.
“Penghasilan mereka rendah dan tingkat ekonomi masih dalam tahap prasejahtera,” katanya.












