Ketika jarum jam menunjukkan pukul 16.00 WIB, Soekarmiati, Kepala Kelompok Belajar Nusantara Kita, tak lagi merasa was-was. Suara musik disko yang biasanya membuat bising kelompok belajar itu beberapa tahun lalu, kini telah berubah dengan lantunan sholawat indah. Pemandangan semakin indah ketika melihat anak-anak kecil yang berjalan kaki, dan ada pula yang bersepeda menuju masjid atau musholla untuk mengikuti Taman Pendidikan Al Quran (TPQ).
Namun, mata dan telinga Ninuk-sapaan Soekarmiati, yang dari kecil tinggal di eks lokalisasi Dolly, masih belum lupa cerita kelam lingkungannya. Dulu, pada jam-jam itu, musik disko bervolume tinggi sudah mulai menyala dan wisma-wisma juga sudah bersiap membuka “praktik”.
Kala itu, anak-anak di bawah umur terbiasa dengan kondisi tersebut. Tak heran jika banyak anak-anak akhirnya ikut terjerumus ke dunia kelam. Mereka seakan tak berkutik, kondisi memaksanya menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan mata bathinnya. Masa bermainnya pun seakan “dirampas” oleh lingkungan sekitar.
Cerita kelam itu kini tinggal kisah. Terutama setelah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini merevitalisasi kawasan prostitusi yang konon terbesar se-Asia Tenggara itu. Kini, eks lokalisasi Dolly sudah bertransformasi menjadi kawasan ramah anak dan kawasan pengembangan UMKM.
“Alhamdulillah saat ini sudah nyaman untuk anak-anak, nyaman untuk belajar dan anak-anak saya tidak lagi terganggu dengan adanya musik disko bervolume tinggi,” kata Ninuk saat ditemui di sela-sela mengajar di Kelompok Belajar Nusantara Kita.











