Oleh karena itu, Anas berharap penanganan stunting dilakukan kolaborasi banyak pihak, mulai dari kecamatan, puskesmas, desa, bidang, hingga tokoh masyarakat turut dilibatkan.
“Kalau kita berkolaborasi, tentu penanganannya akan menjadi mudah. Oleh karena itu saya harapkan camat, kades, kepala sekolah dan PKK juga dilibatkan. Sebab kesehatan ibu dan anak memang menjadi prioritas. Semoga target ke depan tercapai,” kata Anas.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi dr Juwana mengatakan bahwa Banyuwangi telah mengambil langkah lebih dahulu untuk mendorong percepatan penanganan stunting.
Meskipun Banyuwangi bukan tempat (locus) stunting di Jawa Timur, yang standarnys telah ditetapkan adalah 28 persen.
“Walaupun begitu, kita tetap harus waspada. Sebab di 2030 kita akan mendapatkan puncak bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding usia nonproduktif. Harapannya anak-anak yang berusia produktif pada saat itu adalah anak-anak yang sehat,” ujar Juwana.



