“Mereka ujung tombak dari penerus kebudayaan kita, sebab tanpa adanya pengrajin yang masih mau membuat batik ini, ngapunten (mohon maaf, Red), bisa-bisa nanti semua komoditas itu dikuasai oleh asing. Sebab, kita bisa melihat di toko-toko bahan, banyak yang berasal dari luar negeri,” lanjutnya.
Menurutnya, banyaknya produk luar negeri tersebut karena dari orang asing bisa menangkap potensi dan menghargai kearifan lokal. Hal ini harus menjadi perhatian seluruh pihak, agar jangan sampai kecolongan. Jadi jangan sampai hal-hal tersebut dikuasai oleh orang lain kita harus jadi raja di negeri kita sendiri, itu intinya,” tegas Arumi. (jnr/wan/Put)



