“Aktif artinya kawasan Halmahera Selatan memang sering terjadi gempa yang tercermin dari peta seismisitas regional dengan klaster aktivitas gempanya cukup padat,” imbuh Daryono.
Kompleks yang dimaksud BMKG adalah kawasan Halmahera Selatan mempunyai empat zona seismogenik sumber gempa utama. Ada tiga sistem sesar yang berada di kawasan tersebut.
“Disebut kompleks karena zona ini terdapat 4 zona seismogenik sumber gempa utama, yaitu Halmahera Thrust, Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan. Adapaun ketiga sistem sesar: Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan merupakan ‘percabangan’ atau splay dari Sesar Sorong yang melintas dari timur membelah bagian atas kepala burung di Papua Barat,” ujar Daryono.
Daryono menuturkan gempa M 7,2 di Halmahera Selatan dipicu oleh Sesar Sorong-Bacan. Sesar tersebut selama ini meyimpan akumulasi medan tegangan kulit bumi yang terpatahkan sebagai gempa pada kemarin sore.
“Di Pulau Batanta, ke arah barat Sesar Sorong mengalami percabangan. Pada percabangan yang paling utara yaitu Sesar Sorong-Bacan inilah yang selama ini menyimpan akumulasi medan tegangan kulit bumi yang akhirnya terpatahkan sebagai gempa berkekuatan M 7,2 yang terjadi kemarin sore. Sesar Sorong-Bacan inilah pemicu gempa Halmahera Selatan,” ujar dia.
Sementara itu, BPBD Maluku Utara menyarankan Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan segera menetapkan status tanggap darurat.












