Apa yang dilakukan Pemkot terhadap masyarakat nelayan di Kejawan Lor, juga menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa nelayan juga bisa survive tanpa harus berantem, tetapi bisa hidup berdampingan secara damai. Konsep ini yang membuat PBB menjadikan Surabaya sebagai tujuan untuk belajar bagi negara lain.
“Saat saya di Amerika kemarin, semua perwakilan negara hanya menyampaikan berbagai persoalan di negaranya, dan minta agar ditangani PBB. Apa-apa PBB, apa-apa PBB. Kan tidak bisa seperti itu. Makanya saya menyampaikan harus bisa berusaha sendiri, seperti yang sedang kami lakukan sekarang ini,” jelasnya.
Sementara Camat Bulak, Priyatno berharap, rumah nelayan di tiga kelurahan, yakni Kejawan, Cumpat dan Nambangan, nantinya semuanya akan berwarna-warni oleh cat. “Bukan hanya rumah yang ada di seberang jalan, tetapi juga di dalam kampung,” ujarnya.
Dan yang tidak kalah penting, sambung Prayitno adalah bagaimana mengubah mind set warga di wilayahnya. Dia berharap warganya kelak bisa memiliki kesadaran terhadap lingkungannya sendiri. “Konotasi yang ada kan lingkungan nelayan itu kumuh dan kotor. Itu yang akan kita ubah. Harapan kami nanti kampung nelayan menjadi bersih dan indah sesuai instruksi bu wali,” sambung Prayitno.(*)












