Selain itu, juga isolasi dan higiene individu agar tidak menjadi sumber penular. Petugas juga menggunakan sarung tangan dan cuci tangan alkohol 96 persen bergliserin, utamanya sebelum maupun setelah kontak langsung dengan pasien.
Sejumlah surveilans juga disiapkan untuk pemantauan berkelanjutan agar mampu memetakan sebaran kasus, faktor risiko, dan langkah penanganan. Upaya ini dilakukan di antaranya dengan mengisi sistem kewaspadaan dini dan respon (SKDR) secara tertib dan akurat.
Selain itu, Dinkes juga menyiapkan pengendalian faktor risiko penularan. Di antaranya dengan menyosialisasikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Mulai dari meminum air yang direbus hingga mendidih selama lima menit dan disimpan dalam tempat tertutup. Serta, mengonsumsi makanan dimasak dengan benar dan ditutup. Sumur dan tampungan air diberi kaporit sesuai standar.
Limbah rumah tangga diharapkan berada minimal 10 meter dari sumur/sumber air. Pencucian alat makan dengan sabun dan air mengalir. Sampah dikelola agar tidak mencemari lingkungan.
“Yang tidak kalah penting, buang air besar pada jamban sehat. Serta, cuci tangan pakai sabun saat selesai buang air besar,” pungkas Kohar. (wan/jnr/pca)












