Menurut Sigit, program sarjana terapan ini mewajibkan mahasiswanya untuk mengikuti program magang selama satu semester. Dengan adanya arahan tersebut akan membantu mahasiswa dalam memahami dunia kerja dan membantu dalam mencari topik penelitian untuk tugas akhir (TA). “Kelebihan dengan adanya magang ini, dapat memudahkan dalam menghasilkan lulusan vokasi yang terdidik, terampil, kompeten dan tersertifikasi,” ujarnya.
Sementara untuk sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru (maba) pada prodi sarjana terapan, juga sama dengan prodi sarjana pada umumnya. Yakni sama-sama berbasis nilai UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer), hanya beda jadwal seleksinya saja. Tahun ini, jadwal seleksi masuk prodi sarjana terapan diselenggarakan serentak setelah seleksi masuk prodi sarjana. “Selain jalur reguler yang berbasis hasil tes UTBK, prodi sarjana terapan Fakultas Vokasi ITS juga menerima mahasiswa baru melalui jalur undangan atau prestasi dan jalur kemitraan mandiri,” ulasnya.
Daya tampung mahasiswa baru terbagi dengan komposisi 30 persen jalur undangan/prestasi, 40 persen jalur reguler, 30 persen jalur kemitraan/mandiri. Dari 30 persen jalur undangan/prestasi, lulusan SMK diberi kuota sebanyak 20 persen dan lulusan SMU/MA hanya 10 persen. Informasi selengkapnya tentang penerimaan maba prodi sarjana terapan di ITS ini dapat dilihat pada laman https://smits.its.ac.id/ di bagian Seleksi Masuk Vokasi ITS.
Sigit menambahkan bahwa khusus untuk seleksi masuk jalur prestasi memang ingin memberikan kesempatan yang lebih besar bagi lulusan SMK. Dengan adanya keberpihakan ini sangat penting untuk menunjang kebijakan pemerintah dalam memprioritaskan pengembangan pendidikan vokasi.
“Kedepan lulusan vokasi ini diharapkan dapat membantu dalam mengurangi ancaman bonus demografi, karena lulusannya sudah siap kerja dan memiliki keterampilan lebih,” jelas lelaki berkacamata tersebut.



