Sementara Departemen Teknik Kimia Industri (DTKI) menawarkan prodi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Kimia Industri, Departemen Teknik Instrumentasi (DTIn) mengembangkan prodi Sarjana Terapan Rekayasa Teknologi Instrumentasi, dan Departemen Statistika Bisnis mengembangkan prodi Sarjana Terapan Statistika Bisnis.
Sehingga mulai tahun 2019 ini, ITS memiliki total delapan Prodi Sarjana Terapan. Yaitu Teknologi Rekayasa Pengelolaan dan Pemeliharaan Bangunan Sipil, Teknologi Rekayasa Konstruksi Bangunan Air, Teknologi Rekayasa Manufaktur, Teknologi Rekayasa Konversi Energi, Teknologi Rekayasa Otomasi, Teknologi Rekayasa Kimia Industri, Rekayasa Teknologi Instrumentasi, dan Statistika Bisnis.
Untuk Prodi sarjana terapan Teknologi Rekayasa Pengelolaan dan Pemeliharaan Bangunan Sipil atau Teknik Infrastruktur Sipil yang dibuka kali pertama di ITS tahun 2012, hingga kini telah menghasilkan 601 lulusan yang terdidik, terampil, kompeten dan tersertifikasi. Berbeda dengan prodi sarjana biasa, kedelapan prodi unggulan di bawah naungan Fakultas Vokasi ITS ini memang dirancang untuk menghasilkan lulusan yang memiliki keahlian terapan.
Langkah ini diambil ITS sesuai dengan arahan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada akhir tahun 2018, untuk menghapus Program D3 menjadi Program Sarjana Terapan atau yang biasa dikenal dengan sebutan Diploma IV (D4). Hal tersebut juga sejalan dengan kebijakan ITS yang ingin memperbanyak Program Sarjana Terapan.
Dijelaskan dosen yang kerap disapa Sigit ini, bahwa saat ini prodi sarjana terapan menjadi favorit di kalangan generasi milenial. Hal ini dikarenakan prodi sarjana terapan lebih banyak praktiknya, baik berupa praktek di lapangan maupun magang di dunia kerja. Kondisi ini sangat sesuai untuk generasi milenial yang menyukai hal-hal yang bersifat terapan atau aplikatif. “Pada dasarnya prodi sarjana terapan memang berorientasi pada praktek sebesar 60 persen dan teori sebesar 40 persen,” imbuh Guru Besar Teknik Infrastruktur Sipil tersebut.



