Dedi menuturkan, kegiatan monitoring telah diperkuat sejak jaringan teroris Abu Hamzah diungkap. Dedi menegaskan, Densus 88 Antiteror telah berpengalaman dalam hal memitigasi pergerakan teroris.
“Penguatan terhadap monitoring terus dilakukan, baik dari seluruh Satgas Antiteroris dan radikalisme di Polda-Polda dengan Densus 88 dan stakeholder terkait, terus melakukan monitoring sleeping cell maupun di beberapa wilayah. Masyarakat diharap untuk tenang dan percayakan kepada kepolisian yang sudah memiliki pengalaman puluhan tahun untuk melakukan antisipasi dan penegakkan hukum terhadap kelompok teroris yang ada di Indonesia,” sambung Dedi.
Sebelumnya, rentetan ledakan bom di Sri Lanka menewaskan sedikitnya 290 orang, terjadi dalam waktu nyaris bersamaan sepanjang Minggu (21/4) waktu setempat. Enam ledakan pertama terjadi dalam waktu 20 menit, sebelum dua ledakan lainnya menyusul beberapa jam kemudian.



