Di sisi lain menurutnya, saat ada kenaikan harga BBM sebelumnya pengelola dan pengemudi angkot tidak menaikkan tarif. Jika sekarang dengan BBM harganya hanya turun rata-rata Rp500,- per liter, berapa penurunan tarif angkot yang saat ini rata-rata sekali jalan Rp4.000.
“Kalaupun harus turun tiga persen hanya sekitar Rp150,- sangat sulit memberi pengembalian, karena uang koin juga tidak lagi banyak digunakan masyarakat,” katanya.
Walikota mengaku, pemerintah kota berencana merevitalisasi angkot. Hanya saja revitalisasi tersebut bisa dilaksanakan jika awak angkutan tergabung dalam koperasi.
“Pak Irvan (Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Surabaya), sudah tahu teknisnya. Mereka juga sudah membentuk koperasi. Jadi saat ini saya mau push untuk bisa segera dilaksanakan,” katanya.












