Dengan adanya disrupsi agama, lanjut dia, agama yang sejatinya hadir untuk menjaga harkat dan martabat kemanusiaan justru disalahgunakan untuk merendahkan sesama manusia.
“Tidak hanya melontarkan ucapan yang bertolak belakang dengan ajaran agama tetapi diwujudkan dalam bentuk kekerasan atas nama agama serta merendahkan bahkan meniadakan eksistensi sesama manusia. Ini terjadi di banyak belahan dunia,” kata dia.
Menghadapi tantangan itu, ia meminta seluruh Perguruan Tinggi Islam baik UIN, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), maupun Istitut Agama Islam Negeri (IAIN) konsisten memelihara kualitas kehidupan Islam, tidak hanya di Tanah Air, namun juga di level dunia.
Perguruan tinggi Islam, tambah Menag, juga harus mampu mengajarkan cara beragama dengan dilandasi rasa. Tanpa memiliki rasa, beragama menjadi sangat formalistik, kaku, cenderung fragmentatif, dan tidak memanusiakan manusia sehingga melenceng dari watak dasar agama itu sendiri.












