Selain itu, pasien sakit jiwa membludak setelah pihaknya melakukan pelayanan penyuluhan, pengobatan, deteksi dini gangguan jiwa dan kunjungan ke rumah di 28 kabupaten dan satu kota.
Melalui pelayanan itu, kata dia, pasien dan keluarganya memahami bahwa memang harus berobat kalau mau sembuh, keluarganya harus bawa ke rumah sakit.
“Setelah mereka mengetahui sekarang kami yang kesulitan daya tampungnya. Pasien sakit jiwa membludak, semua pasien sakit jiwa datang ke kami di RS Jiwa Abepura,” katanya.
Lantaran semua masyarakat sudah mengetahui kalau ada Rumah Sakit Jiwa maka semua yang membutuhkan pengobatan ini datang berbondong-bondong.
“Memang tidak semua pasien sakit jiwa kami inapkan, ada sebagian pasien yang rawat jalan dan keluarganya membantu untuk perawatan selanjutnya,” katanya.












