Karena itu, ia menegaskan, bahwa pembangunan sebuah infrastuktur jalan dan pelabuhan dinilai sangat penting, dan saling berkaitan.
Artinya, jika proses pengangkutan dari luar menuju pelabuhan tidak efektif, ataupun sebaliknya, maka dampaknya juga akan berpengaruh terhadap harga nilai barang atau produk.
“Karena itu saya mencoba infrastruktur pendukung di Surabaya untuk pelabuhan tidak menggunakan tol, supaya efisien,” jelasnya.
Di sisi lain, lanjut dia, pembangunan infrastuktur dinilai dapat mengurangi cost operasional perusahaan, sehingga dampaknya juga akan berpengaruh terhadap harga barang ataupun produk.
“Karena itu, di Surabaya kami mencoba itu, karena akan berpengaruh terhadap nilai barang,” pungkasnya.
Sebagai informasi, saat ini INAP sudah beranggotakan 10 pelabuhan yang terdiri dari sembilan negara, yaitu Cebu Port, Subic Bay dan Davao Port (Filipina), Chittagong Port (Bangladesh), Colombo Port (Sri Lanka), Dangjin Port (Korea), Transnet Port Terminal (Durban, Afrika Selatan), Kochi Prefectual Government (Jepang), Mokpo Newport Terminal (Korea), Qingdao Port (China), dan Pelabuhan Tanjung Perak (Indonesia). (mnhdi/cn02)












