
Surabaya, cakrawalanews.co – Fase bonus demografi tengah menghampiri Indonesia, dimana untuk jumlah usia produktif antara15 hingga 64 tahun menjadi lebih besar dari penduduk usia non produktif.
Tingginya pertumbuhan penduduk rupanya tidak dibarengi dengan tingginya lapangan pekerjaan. Masalah rendahnya lapangan pekerjaan terjadi lantaran adanya beberapa faktor, mulai dari rendahnya daya serap pekerja karena masalah modernisasi industri, tingginya daya saing dan regulasi pemerintah.
Seperti halnya kota Surabaya, kota yang seolah menjadi magnet bagi para kaum pekerja untuk mengadu nasib ini menjadikan kota ini sangat “ sesak “ karena daya saing yang tinggi. Sektor-sektor pekerjaan menjadi sangat riuh dan sangat selektif dalam membuka kran lapangan pekerjaan.
“ Saat ini kebutuhan pegawai akan turun, baik itu sektor industri atau lainnya. Saat ini dimana-mana industri banyak yang menggunkan robot. Artinya daya tampung pegawai jadi sedikit. Dipemerintah kota saja sudah hampir lima tahun ini tidak melakukan penerimaan pegawai negeri. Bayangkan lima tahun ini turun 10 ribu pegawai karena pensiun “ ujar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini beberapa waktu lalu diruang kerja wali kota.
Ia juga mengakui bahwa penyediaan lapangan pekerjaan tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah pasalnya, investor juga belum tentu akan mudah untuk diajak dan juga investor belum tentu cocok dengan pendidikan yang telah dimiliki.












