Alquran terjemahan bahasa Madura tersebut, diakui belum disebarluaskan dan masih dicetak dalam jumlah terbatas. Karena belum adanya tashih (koreksi) dari lajnah.
“Kalau nanti sudah di tashih, baru kita cetak lebih banyak untuk disebarluaskan,” imbuhnya.
Selama proses menterjemahkan Alquran ke dalam bahasa Madura, kata Zahid, pihaknya melibatkan Yayasan Pakem Maddhu untuk mengoreksi tata cara penulisan bahasa Madura.
“Seperti penulisan kata mendengarkan (Madura : mereng) ketika diterjemahkan ke bahasa Madura dalam penulisan bisa mengarah ke miring. Jadi, biar tidak salah penulisan,” urainya.












