Hasil pemantauan menunjukkan hujan terjadi di sekitar kawasan Gunung Semeru sejak pukul 23.40 WIB. Bahkan, pada periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, alat pemantauan merekam getaran banjir selama enam jam dengan amplitudo maksimum mencapai 65 milimeter.
Badan Geologi juga mengingatkan potensi hujan yang dapat mengangkut endapan material vulkanik menjadi aliran lahar melalui sejumlah sungai berhulu di Semeru. Di antaranya Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungainya.
Kondisi tersebut berpotensi membahayakan penambang pasir, pengemudi angkutan material, maupun masyarakat yang beraktivitas di sepanjang alur dan bantaran sungai.
Badan Geologi pun mengimbau masyarakat segera menghentikan aktivitas dan menjauh dari kawasan sungai yang berpotensi dilalui lahar. Khusus Besuk Kobokan, masyarakat diminta mematuhi zona larangan aktivitas hingga radius 13 kilometer dari puncak. Sementara itu, area hingga 500 meter dari tepi sungai juga harus dikosongkan karena potensi perluasan awan panas dan lahar dapat mencapai 17 kilometer dari puncak.
Menanggapi kondisi tersebut, Lailatul mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan BPBD memastikan seluruh kebutuhan dasar warga terdampak dan pengungsi terpenuhi. Mulai dari makanan, air bersih, pelayanan kesehatan, hingga tempat pengungsian yang layak.



