“Sebagai seorang dokter, saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang dan kebutuhan untuk belajar tidak pernah berhenti. Saya memilih menempuh pendidikan hukum karena ingin memperluas wawasan dan memahami aspek hukum dari perspektif yang berbeda. Menurut saya, pemahaman lintas disiplin sangat penting, karena dalam kehidupan profesional kita tidak hanya berhadapan dengan aspek keilmuan utama, tetapi juga berbagai aspek lain yang saling berkaitan,” ungkap dr. Wahyu.
Ia menilai pendidikan di Fakultas Hukum UMAHA memberikan pengalaman sekaligus perspektif baru.
Pengetahuan tersebut diharapkan dapat melengkapi perjalanan akademik dan profesionalnya.
“Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang sudah dimiliki. Gelar dan profesi bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya secara bijaksana dan memberikan manfaat bagi orang lain,” tambahnya.
Kisah Juyana dan dr. Wahyu menjadi gambaran bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar upaya memperoleh gelar.
Lebih dari itu, proses belajar dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kapasitas diri dan memperluas kontribusi di tengah masyarakat.
Melalui wisuda ke-24 yang diikuti 525 lulusan tersebut, UMAHA menegaskan komitmennya membuka kesempatan pendidikan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Keberhasilan lulusan pun tidak hanya diukur dari gelar yang disandang. Namun, juga dari kemampuan menerapkan ilmu menjadi karya dan pengabdian yang bermanfaat.
Bagi Juyana, usia 60 tahun bukan akhir untuk mengejar cita-cita.



