Ancaman pencurian data juga dapat muncul ketika masyarakat menggunakan jaringan internet publik.
Wirawan mengingatkan adanya kemungkinan jaringan Wi-Fi palsu yang sengaja dibuat menyerupai jaringan resmi untuk menjebak pengguna.
Karena itu, masyarakat sebaiknya memastikan keaslian jaringan kepada pengelola tempat sebelum menghubungkan perangkat.
“Pastikan dulu kepada pengelola tempat apakah jaringan Wi-Fi tersebut benar-benar milik mereka,” pesannya.
Tak hanya saat menggunakan jaringan internet, kehati-hatian juga diperlukan ketika mengakses aplikasi dan layanan digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Pengguna perlu memahami bagaimana data mereka dimanfaatkan dan menghindari membagikan informasi sensitif, seperti nomor identitas maupun dokumen KTP, secara sembarangan.
Di tengah semakin luasnya aktivitas komunikasi dan transaksi melalui ruang digital, keamanan informasi bukan lagi sekadar urusan teknis.
Kesadaran masyarakat dalam menjaga data pribadi menjadi salah satu benteng untuk menghadapi ancaman penyadapan dan berbagai bentuk kejahatan siber.
Melalui edukasi tersebut, ITS mendorong masyarakat agar lebih bijak memanfaatkan teknologi sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap keamanan informasi.
Upaya ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. (*)



